agus wibisono.com

What really happens to the plastic you throw away – Emma Bryce

Translator: Made Pramana
Customer: Deera Army Pramana Ini adalah sebuah cerita
tentang tiga botol plastik, yang sudah kosong dan dibuang. Perjalanan hidup ketiganya akan terpisah dengan akhir yang akan
menentukan nasib planet ini. Tetapi masih banyak juga jalan lainnya. Untuk mengerti di mana botol ini berakhir,
kita perlu mencari tahu asalnya. Tokoh utama dalam cerita kita ini
dibentuk di kilang minyak. Plastik yang menyusun tubuhnya terbentuk dari ikatan kimia
antara molekul minyak dan gas sehingga terbentuklah monomer. Kemudian monomer dirangkai menjadi
polimer panjang untuk membuat plastik dalam bentuk jutaan pelet. Pelet dilelehkan di pabrik pengolahan
dan dibentuk dalam cetakan hingga terbentuk bahan kuat
yang menyusun ketiga botol kembar itu Mesin mengisi botol-botol itu.
dengan cairan peanut bergelembung lalu dibungkus, dikirim,
dibeli, dibuka, dikonsumsi dan dibuang tanpa basa-basi. Sekarang di sinilah mereka, tergeletak di penghujung antah-berantah. Botol pertama, seperti ratusan juta lot
saudara-saudaranya, berakhir di penimbunan sampah. Timbunan sampah raksasa ini
makin tinggi hari demi hari karena sampah terus berdatangan
dan memakan tempat. Selagi plastik tertumpuk dan tertekan
di antara lapisan sampah lainnya, air hujan mengalir ke dalam sampah itu dan menyerap senyawa larut-air
yang terkandung pada sampah, dan sebagian senyawa itu sangat beracun.Campuran ini menjadi sup berbahaya bernama leachate atau lindi, yang
dapat bergerak ke dalam air tanah, tanah, dan sungai, meracuni ekosistem dan membahayakan satwa. Botol pertama perlu 1.000 tahun untuk terurai.
Perjalanan botol kedua lebih aneh, tetapi sayangnya, tidak lebih bahagia. Dia mengapung dalam aliran selokan dan mencapai sungai kecil, sungai kecil itu mengalir ke sungai besar, dan sungai besar akan membawanya ke laut. Setelah berbulan-bulan tersesat di laut, dia perlahan tertarik ke dalam pusaran air raksasa di mana sampah berkumpul, tempat yang bernama Pulau Sampah Pasifik Besar. Di sini arus laut menjebak jutaan serpihan plastik Ini adalah satu dari lima pusaran plastik. atau gyre yang terbentuk di lautan. Di tempat inilah polutan mengubah
air menjadi sup plastik keruh. Beberapa hewan, seperti burung laut, terkena dampak dari masalah ini. Mereka dan hewan lain, mengira plastik berwarna sebagai makanan.Plastik menimbulkan rasa kenyang tetapi tak memberikan nutrisi, akibatnya mereka mati kelaparan dan membuat racun

dari plastik menyebar sepanjang rantai makanan. Contohnya, plastik dimakan ikan lentera, ikan lentera dimakan cumi-cumi, cumi-cumi dimakan ikan tuna, dan ikan tuna dimakan oleh kita. Kebanyakan plastik tidak terurai, artinya mereka ditakdirkan untuk terpecah menjadi potongan yang semakin kecil yang disebut mikroplastik, yang bisa beredar di laut selamanya. Tetapi botol ketiga terhindar dari neraka kejam yang menimpa botol lain. Truk membawanya ke pabrik pengolahan tempat dia dan teman-temannya diremas sampai rata dan dipadatkan menjadi sebuah balok.Oke, ini terdengar buruk juga, tetapi tahan dulu. Selanjutnya akan lebih baik. Balok dicacah menjadi potongan kecil lalu dicuci dan dilelehkan, menjadi bahan mentah yang bisa diolah lagi.

Bak sihir, botol ketiga siap untuk lahir kembali menjadi sesuatu yang benar-benar baru. Bagi plastik kecil ini yang asal-usulnya sederhana, tiba-tiba segalanya mungkin diraih
.

Untuk mengerti di mana botol ini berakhir,
Sekarang di sinilah mereka, tergeletak di penghujung antah-berantah. Botol pertama, seperti ratusan juta bunch
Ini adalah satu dari lima pusaran plastik. Contohnya, plastik dimakan ikan lentera, ikan lentera dimakan cumi-cumi, cumi-cumi dimakan ikan tuna, dan ikan tuna dimakan oleh kita.

WhatsApp chat