Orientasi dalam manajemen Pemasaran

Bagikan IlmuFacebook1Twitter0Google+0LinkedIn0Pinterest0tumblrEmail

Manajemen pemasaran ingin merancang strategi  yang akan membangun hubungan yang menguntungkan dengan konsumen sasaran.  Tetapi  ada beberapa filosofi menurut Philip Kotler sebagai guru besar dalam ilmu pemasaran. Filosofi-filosofi ini nanti yang akan menentukan kepentingan pelanggan, organisasi dan masyarakat.  Yaitu :

  1. konsep produksi
  2. konsep produk
  3. konsep penjualan
  4. konsep pemasaran
  5. konsep pemasaran berwawasan sosial

Konsep Produksi. Merupakan konsep filosofi tertua yang memandu penjualan.  Menyatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang tersedia dan harga yang terjangkau. Dengan konsep ini maka manajemen harus berfokus kepada peningkatan efisiensi produksi dan distribusi. Konsep produksi masih merupaka filosofi yang bermanfaat dalam beberapa situasi. lenovo_1

Sebagai contoh, pembuat computer Lenovo mendominasi pasar PC Cina yang sangat kompetitif dan sensitive terhadap harga melalui upah buruh yang rendah, efisiensi produksi yang tinggi dan distribusi missal. Meskipun demikian, walaupun berguna dalam beberapa situasi, konsep produksi bisa menyebabkan rabun jauh pemasaran. Perusahaan yang menjalani konsep ini menjalani resiko yang sangat besar karena terlalu memfokuskan diri pada operasi mereka sendiri dan kehilangan pandangan terhadap tujuan yang sebenarnya. Memuaskan kebutuhan dan membangun hubungan pelanggan.

Konsep produk. Menyatakan bahwa konsumen menyukai produk yang menawarkan kualitas, kinerja, fitur yang inovatif yang terbaik. Berdasarkan konsep ini, strategi pemasaran berfokus pada perbaikan produk yang berkelanjutan. 22564029
Kualitas dan peningkatan produk adalah bagian yang penting dalam sebagian besar strategi pemasaran. Meskipun demikian, memfokuskan diri hanya pada produk perusahaan dapat menyebabkan rabun jauh pemasaran juga. Sebagai contoh, beberapa produsen percaya bahwa jika mereka dapat membuat jebakan tikus yang lebih baik, dunia akan membukakan pintu bagi mereka. Tetapi mereka sering terperanjat. Para pembeli mungkin mencari solusi yang lebih baik terhadap masalah tikus tetapi tidak mencari jebakan tikus yang lebih baik. Solusi yang lebih baik bisa berupa semprotan zat kimia , jasa pemusnahan, atau sesuatu yang bekerja lebih baik daripada jebakan tikus.  Lebih jauh lagi, jebakan tikus yang lebih baik tidak akan terjual kecuali produsen merancang, mengemas, dan menetapkan harga yang menarik.; menempatkan jebakan tikus saluran distribusi yang sesuai; membuat jebakan tikus itu menjadi perhatian masyarakat yang membutuhkannya. Dan meyakinkan pembeli bahwa jebakan tikus itu adalah produk yang lebih baik.

Konsep penjualan. Banyak perusahaan mengikuti konsep penjualan (selling concept). Yang menyatakan bahwa konsumen tidak akan membeli produk perusahaan kecuali jika produk itu dijual dalam skala penjualan dan usaha promosi besar. Konsep ini biasanya dipratekkan pada barang yang tidak dicari  – barang barang yang tidak terpikir akan dibeli oleh konsumen dalam keadaan normal, seperti asuransi atau donor darah.  Industri-industri ini harus melacak prospek dan menjual produk berdasarkan manfaat produk.
Meskipun demikian, penjualan agresif seperti itu mengandung resiko yang tinggi.  Konsep ini menitik beratkan pada penciptaan transaksi penjualan dan bukan hubungan jangka panjang dengan pelanggan yang menguntungkan. Tujuannya sering kali berkisar pada cara menjual produk yang dihasilkan oleh perusahaan dan bukan membuat produk yang diinginkan oleh pasar. Konsep ini mengasumsikan bahwa pelanggan yang terbujuk untuk membeli produk ini akan menyukainya. Atau jika pelanggan tidak menyukai produk ini mereka akan melupakan kekecewaan mereka dan membelinya lagi. Asumsi ini adalah asumsi yang buruk.

Konsep pemasaran. Menyatakan bahwa pencapaian tujuan organisasi tergantung pada pengetahuan akan kebutuhan dan keinginan target pasar dan memberikan kepuasan yang diinginkan dengan lebih baik dari pada pesaing. Dengan konsep ini, fokus dan nilai pelanggan adalah jalan menuju penjualan dan keuntungan. Filosofinya yaitu “membuat dan menjual” yang berpusat pada produk.  Konsep pemasaran adalah filosofi “merasakan dan merespon” yang berpusat pada pelanggan. Konsep ini memandang pemasaran bukan sebagai kegiatan berburu tetapi sebagai kegiatan berkebun. Pekerjaan yang dilakukan bukanlah menemukan pelanggan yang tepat buat produk anda tapi menemukan produk yang tepat bagi pelanggan.
Gambar  ini memperlihatkan perbedaan konsep penjualan dan konsep pemasaran. Konsep penjualan mempunyai perspektif dari dalam ke luar. Konsep ini dimulai dari pabrik,dengan titik berat produk perusahaan yang sudah ada, dan melakukan penjualan dan promosi besar-besaran untuk meraih penjualan yang menguntungkan. Fokus utama konsep ini terletak pada usaha untuk menaklukan pelanggan- melakukan penjualan jangka pendek dengan tidak terlalu memperhatikan siapa yang membeli dan mengapa membeli.
Sebaliknya konsep pemasaran mempunyai perspektif dari luar ke dalam. Seperti yang dikatakan Herb Kelleher, CEO Southwest airlines, “kami tidak memiliki departemen pemasaran, kami memilki departemen pelanggan”.  Salah satu eksekutif ford pernah berucap,”jika kami tidak digerakkan oleh pelanggan, begitu juga oleh mobil kami”. Konsep pemasaran dimulai dengan pasar yang terdefinisi dengan baik, fokus pada kebutuhan pelanggan. Sebagai imbalannya, pemasaran mencapai keuntungan dengan menciptakan hubungan yang langgeng dengan pelanggan yang tepat, berdasarkan nilai dan kepuasan pelanggan.
Mengimplementasikan konsep pemasaran sering kali berarti lebih dari sekedar merespon keinginan dan kebutuhan yang dinyatakan pelanggan. Perusahaan yang digerakkan oleh pelanggan melakukan riset pelanggan terkini secara mendalam untuk mempelajari suatu hasrat mereka, mengumpulkan ide ide produk dan jasa baru, dan menguji perbaikan produk yang direncanakan. Pemasaran yang digerakkan pelanggan seperti itu biasanya bekerja dengan baik ketika ada kebutuhan yang jelas. Dan ketika pelanggan mengetahui apa yang mereka inginkan.
pda_reviews_1Meskipun demikian, dalam banyak kasus, pelanggan tidak mengetahui apa yang mereka inginkan atau bahkan yang mungkin mereka inginkan. Sebagai contoh, pada 20 tahun yang lalu, berapa banyak konsumen yang mengira saat ini seperti telepon seluler, computer netbook, ipod, kamera digital, pembelian online 24 jam, dan system navigasi satelit di dalam mobil mereka? Situasi ini membutuhkan pemasaran yang menggerakkan pelanggan.- memahami kebutuhan pelanggan jauh lebih baik daripada memahami diri mereka sendiri dan menciptakan produk dan jasa yang memenuhi kebutuhan yang ada dan kebutuhan laten, sekarang dan di masa yang akan datang. Seperti yang dinyatakan eksekutif 3M: “tujuan kami adalah mengarahkan pelanggan kemana mereka hendak pergi sebelum mereka mengetahui kemana mereka akan pergi”.

Konsep pemasaran berwawasan sosial. konsep pemasaran berwawasan sosial mempertanyakan apakah konsep pemasaran murni sudah memeperhatikan kemungkinan konflik antara keinginan jangka pendek dengan konsumen dan kesejahteraan jangka panjang konsumen. Apakah perusahaan yang mampu memuaskan kebutuhan dan keinginan saat ini dari target pasar selalu melakukan terbaik bagi konsumen dalam jangka panjang? Konsep pemasaran berwawasan sosial menyatakan bahwa strategi pemasaran harus dapat memberikan nilai bagi pelanggan dalam cara mempertahankan atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.

Perhatikan industri makanan saji. Anda mungkin memandang rantai industri makanan siap saji saat ini sebagai industri yang menawarkan makanan enak dan lezat dengan harga yang murah. Tetapi banyak ahli gizi konsumen dan kelompok lingkungan yang menyuarakan keprihatinan kuat. Mereka menunjuk pembuat makanan saji seperti Hardee’s yang mempromosikan makanan porsi raksasa (monster meal )-dua lembar daging sapi Angus 1/3 pon. Empat lembar bacon, tiga potong keju amerika dan mayones di atas roti berlapis mentega, mengandung 1.420 kalori dan 102 gram lemak. Dan McDonald’s dan burger King masih memeasak makanan goreng mereka dalam minyak yang kandungan lemak tinggi dan dapat menyumbat aliran darah. Pata pengkritik menyatakan makanan yang tidak sehat seperti itu menyebabkan konsumen terlalu banyak menkonsumsi makanan yang salah dan dapat menyebabkan epidemi obesitas nasional. Selain itu, produk makanan ini dibungkus dengan dengan kemasan yang bagus, tapi menimbulkan limbah dan polusi. Maka dalam usahanya untuk memuaskan keinginan konsumen jangka pendek, rantai industri makanan siap saji yang berhasil bisa merusak kesehatan konsumen dan menyebabkan masalah lingkungan dalam jangka panjang.

daftar pustaka:

Kotler Philips, prinsip prinsip pemasaran edisi 12 jilid 1 :2006 Erlangga, Jakarta.

Artikel Terkait

Comments

  1. Reply

  2. By MARCUS

    Reply

  3. Reply

  4. By rera

    Reply

  5. By slim

    Reply

  6. Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>