manajemen kinerja

Ada seorang atasan sebuah perusahaan manufaktur yang sedang melakukan inspeksi turun ke bawah untuk memeriksa anak buahnya. Ketika dia berkeliling, ia bertemu dengan joni, seorang operator mesin, yang kelihatannya tidak mengerjakan apa-apa. Sang atasan perusahaan tersebut langsung menghampiri Joni dan menanyakan apa yang terjadi. Si karyawan tadi menerangkan bahwa ia sedang menunggu teknisi mesin untuk memperbaiki mesin tersebut. terjadi percakapan antara atasan dengan Joni tersebut.

Atasan : Bantulah saya untuk memahami hal ini. Sudah berapa lama kamu bekerja dengan menggunakan mesin ini??

Joni : Rasanya sudah sekitar dua puluh tahun, pak.

Atasan : Apakah kamu mau mengatakan bahwa selama dua puluh tahun ini kamu masih belum juga bisa memperbaiki mesin ini?? Sangat sulit dipercaya. Saya kira kamu adalah operator terbaik di perusahaan ini. Joni : Saya mampu memperbaiki mesin ini dengan mata tertutup. Tetapi biar bapak tahu, memperbaiki mesin ini bukanlah pekerjaan saya. Deskripsi kerja saya hanya menggunakan mesin ini, jika ada kerusakan saya harus melapor kepada teknisi. Saya tidak mau ada orang yang marah.

Dengan menyembunyikan perasaan frustasinya, atasan tadi mengundang joni, operator tadi dengan membawa salinan deskripsi kerjanya. “Begini saja”, kata sang atasan, “kita akan menuliskan deskripsi kerja yang baru untukmu yang sedikit masuk akal.” Tanpa basa-basi, atasan tadi merobek deskripsi kerja itu dan dengan cepat menulis sesuatu di lembar deskripsi kerja yang baru, lalu ia menyerahkan kertas itu kepada joni. Pada deskripsi kerja yang baru itu hanya menulis sebuah kalimat: “PAKAI KEPALAMU.”

*****

inti sebuah cerita di atas adalah bahwa kadang tujuan perusahaan menetapkan deskripsi kerja seorang karyawan adalah untuk meningkatkan produktivitas namun bagi karyawan, deskripsi kerja tersebut menjadi boomerang bagi perusahaan. Karyawan tidak melakukan pekerjaan sesuatu yang mampu dilakukannya untuk melanjutkan pekerjaannya. Hal ini kita alami juga ketika kita ikut suatu organisasi didalamnya dan kita menjadi panitia suatu acara. Pembagian tugas sudah ditetapkan masing-masing. Namun ketika salah satu panitia diberi tugas yang tidak sesuai dengan tugas yang dia tetapkan, dia akan bilang,”ini bukan tugas saya.”

Kunci untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja suatu karyawan atau anggota suatu organisasi dengan memahami secara individu masing-masing sasaran dan tujuan dari perusahaan atau organisasi. Salah satu cara peningkatan kinerja suatu karyawan atau anggota dari suatu organisasi adalah dengan menerapkan manajemen kinerja. menurut definisi dari buku performance management, manajemen kinerja yaitu proses komunikasi secara berkesinambungan antara karyawan dengan perusahaan, atau dengan anggota organisasi dengan suatu organisasi. Proses ini meliputi membangun tujuan dan harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang dilakukan. Ini merupakan sebuah sistem yang memiliki nilai tambah bagi organisasi, manajer selaku atasan, dan karyawan.

Organisasi bekerja lebih efektif bila tujuan-tujuan organisasi, unit kerja yang lebih kecil, dan tanggung jawab setiap karyawan jadi terhubung. Bila orang-orang didalam organisasi di dalamnya memahami bagaimana pekerjaan mereka memberikan kontribusi bagi keberhasilan perusahaan, sehingga semangat dan produktivitas bisa meningkat. Manajemen kinerja ini berhubungan dengan perencanaan strategis, anggaran keuangan, pengembangan karyawan, dan program-program peningkatan kualitas. Semakin erat hubungan yang dibangun antara manajemen kinerja dan proses-proses lainnya dalam organisasi, semakin besar keuntungan dari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>